Kegiatan ini dirancang untuk membantu siswa berani menyampaikan gagasan dan membangun kepercayaan diri dalam berkomunikasi. Melalui pendekatan yang interaktif dan inklusif, peserta didik diajak memahami cara menyusun pesan persuasif, mengenali kebutuhan audiens. Selain itu, siswa dibimbing untuk menyampaikan ide dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Seluruh materi disesuaikan dengan kebutuhan belajar peserta didik tunanetra dan berkebutuhan khusus.
Selama kegiatan berlangsung, para siswa tampak antusias mengikuti sesi pematerian. Mereka belajar mengenal cara menyampaikan pendapat secara jelas, mengolah rasa gugup serta membentuk citra diri yang positif. Praktik public speaking menjadi momen yang paling dinantikan. Beberapa siswa memperkenalkan diri, menceritakan hobi, dan menyampaikan impian mereka dengan percaya diri.
Selanjutnya, Armien menyampaikan bahwa dalam berbicara kita perlu menyentuh emosional dari audience agar terjadi komunikasi interaktif yang baik.


