“Saya menemukan bahwa para gamers tidak selalu memiliki kelemahan dalam kontrol diri seperti yang sering diasumsikan. Ketika mereka dihadapkan pada tugas yang mirip dengan pengalaman bermain game, performanya justru meningkat. Ini membuka ruang pemahaman baru tentang bagaimana lingkungan digital membentuk cara mereka berpikir dan mengambil keputusan,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa studi ini penting untuk mendorong pendekatan yang lebih adil dan ilmiah dalam memahami perilaku bermain game. “Bukan hanya soal membatasi tetapi bagaimana kita membangun literasi digital, self-awareness, dan regulasi diri agar bermain game tetap sehat dan bermakna,” ujarnya.
Melalui penelitiannya, Fanni juga memberikan rekomendasi praktis berupa penguatan psikoedukasi dalam hal self-awareness, regulasi emosi, kontrol diri, penetapan tujuan, serta perilaku digital sehat. Ia menyarankan pengembangan penelitian lanjutan dengan melibatkan kelompok nongamers, penggunaan stimulus visual berbasis game, serta pendalaman model moderasi untuk memahami alasan mengapa problematic gamers terus bermain meski menyadari dampak negatifnya.(askur/png)