Masih menurut Irwan, di situlah peran seorang data analis maupun junior data analis, untuk bisa memvisualisasikan. Istilah Irwan kegiatan storytelling with data. Itu penting karena selama ini orang hanya mengolah data, kemudian ditampilkan tapi tidak bisa menceritakan atau bercerita, apa sih yang menyebabkan datanya seperti ini.
“Di sini dibutuhkan kemampuan seorang data analis untuk bisa berstorytelling dengan data. Sehingga pengambilan keputusan, pucuk pimpinan, go or no go itu based by data. Apakah kita mau tahun depan ngasih diskon, atau misalnya kita mau menaikkan harga produk, ya tentu harus berbasis data,” tambahnya.
“Nah relevansinya dengan tugas tendik di perguruan tinggi kami bisa memberikan bukti bahwa betapa pentingnya kemampuan seorang analis data ini. Contoh untuk LPPM misalnya mau mengadakan Pengabdian Kepada Masyarakat maka LPPM harus bisa tepat sasaran. Misalnya kegiatan bakti sosial dengan agenda pemberdayaan masyarakat di bidang ekonomi. Nah, menentukan desa mana yang akan dibantu. Bahkan kalau perlu RW mana yang akan dibantu itu harus berbasis data. Berapa pendapatan rata-rata di desa itu? Apa profesi mayoritas di desa itu? Jangan sampai kalau tidak berbasis data, desa yang basisnya adalah nelayan, kita kasihnya cangkul. Dan desa yang berbasis pertanian, kita berikan jaring kan tidak nyambung,” pungkasnya.
