Dalam konteks digital, karakter mujahid, mujtahid, dan mujaddid diarahkan pada tiga kemampuan yang saling melengkapi. Mujahid menjadi semangat untuk menghadirkan konten yang menjaga nilai Islam. Mujtahid menekankan kemampuan berpikir kritis, melakukan riset, membaca data, serta merumuskan pendekatan dakwah yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat digital. Sementara mujaddid mendorong keberanian menghadirkan inovasi dengan memanfaatkan perkembangan teknologi.
Mahasiswa KPI juga didorong untuk memanfaatkan berbagai teknologi seperti kecerdasan buatan, siniar, sinematografi pendek, virtual reality, hingga live streaming sebagai sarana pengembangan dakwah. Pemanfaatan teknologi tersebut tetap perlu disertai etika komunikasi Islam dan nilai akhlakul karimah.
Dalam materi yang disampaikan Meyda Sefira, ditekankan bahwa menjadi insan dakwah profesional membutuhkan ilmu, karakter, kreativitas, keberanian, dan kemampuan beradaptasi. Perubahan dunia, media, serta pola komunikasi masyarakat menuntut cara berdakwah yang mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai dan prinsip.


