“Perbedaan metode, baik melalui hisab maupun rukyat, memiliki landasan keilmuan yang kuat. Karena itu, jika terjadi perbedaan penentuan, hendaknya kita menyikapinya sebagai rahmat serta tetap menjaga ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah,” ujarnya.
Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Barat, H. Dudu Rohman, S.Ag., M.Si., mengatakan bahwa berdasarkan hasil pemantauan rukyat hilal di Jawa Barat, hilal tidak berhasil terlihat di seluruh titik pengamatan yang tersebar di provinsi tersebut, termasuk di Observatorium Albiruni Unisba.
Tujuh titik pemantauan tersebut berada di Sukabumi, Kabupaten Tasikmalaya, Subang, Cirebon, Banjar, Observatorium Albiruni Unisba di Kota Bandung, serta Observatorium Bosscha di Lembang.
“Ketinggian hilal masih sangat rendah sehingga belum memenuhi kriteria visibilitas. Selain itu, faktor cuaca juga menjadi salah satu kendala dalam pengamatan,” ujarnya.