إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
(QS. Al-Baqarah: 222)
Syekh mengingatkan bahwa keselamatan manusia di akhirat bergantung pada hati yang bersih dari keterikatan duniawi:
إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
(QS. Asy-Syu’ara: 89)
“Bersihkan hati dari segala sesuatu selain Allah (thohhir qulubana minal aghyar). Hati manusia bisa berkarat layaknya besi, dan tidak ada obat penawar karat tersebut kecuali dengan dzikir dan membaca Al-Qur’an,” tegas Syaikh.
Hakikat Zikir dan Kebersihan Lingkungan
Pada sesi pendalaman materi, Syaikh menjelaskan perbedaan antara dzikir dan tasbih. Dia merujuk pada perintah Allah untuk berdzikir sebanyak-banyaknya:
(QS. Al-Ahzab: 41) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
Serta perintah untuk fokus beribadah secara totalitas:
(QS. Al-Muzzammil: 8) وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا