Dia uga memberikan ijazah dzikir kepada KH. Iwan Shofyan dan para jemaah, yakni metode dzikir yang dipadukan dengan pernapasan sambil menghayati kalimat:
إِلَهِي أَنْتَ مَقْصُودِي وَرِضَاكَ مَطْلُوبِي
(Tuhanku, Engkaulah tujuanku dan rida-Mulah yang kucari).
Selain aspek batin, Syaikh memberikan porsi besar pada pembahasan kebersihan fisik. Dia mengingatkan bahwa kebersihan pesantren—mulai dari tempat tidur, ruang makan, hingga toilet—adalah cerminan iman. Menyingkirkan duri atau kotoran di jalan adalah sedekah, sementara membiarkan kotoran, termasuk cicak (saam abrash), harus dihindari karena alasan kesehatan medis. Sebelum tidur, beliau menganjurkan membaca:
(HR. Muslim) أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
Sesi Tanya Jawab: Guru vs Internet
Menjawab pertanyaan santri mengenai fenomena belajar agama hanya melalui internet, Syaikh menegaskan bahwa internet hanyalah alat. “Internet memberikan informasi tetapi tidak bisa memberikan ‘suasana batin’ dan keberkahan ilmu. Seseorang tidak bisa menjadi dokter hanya dengan membaca internet, apalagi dalam ilmu syariat. Jika internet saja cukup, Nabi tidak perlu belajar kepada Malaikat Jibril,” jelasnya .