Menurut IKP, Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten adalah daerah dengan potensi kerawanan yang tinggi, terutama mengingat aktivitas masyarakatnya yang sangat produktif di dunia maya. Tentunya potensi eskalasi dari kerawanan ini di media sosial dapat berdampak serius pada integritas dan polarisasi politik menjelang pilkada. Untuk meminimalisir potensi kerawanan tersebut, diskusi ini digelar dengan berorientasi pada beberapa tujuan, meliputi pemantauan dan analisis media sosial guna mendeteksi dini informasi yang sekiranya bermuatan hoaks, ujaran kebencian, SARA, dan fitnah. Tino Rila Sebayang, CEO Anthromedius Indonesia, menekankan pentingnya memahami cara kerja hoaks untuk dapat menanggulanginya.
“Hoaks bekerja di big data, untuk melawannya, gunakan big data. Pemahaman terhadap social network analysis (SNA) merupakan kunci untuk mengidentifikasi pola penyebaran hoaks, mengungkap aktor-aktor utama dalam jejaring informasi, serta memetakan bagaimana hoaks tersebar dan berkembang di platform media sosial,” jelas Tino.