Sebaliknya, gagasan kritis dan pemikiran konstruktif yang seharusnya menjadi energi bagi keberlanjutan pembangunan justru terkesan kurang mendapat ruang. Orang-orang yang dahulu ikut membesarkan, mendukung, dan menjaga martabat perjuangan politik seolah semakin dijauhkan, bahkan terkesan diperlakukan sebagai lawan.
Sementara itu, suara-suara yang dangkal, pernyataan yang tidak mencerdaskan, serta perilaku yang jauh dari keteladanan etik justru terus mendapatkan panggung.
Jika keadaan seperti ini terus dibiarkan, kita patut bertanya: mau kemana sebetulnya pemerintah ini bergerak? Apa sesungguhnya yang sedang dan hendak dibangun?!
Sebab, pembangunan bukan hanya soal gedung, jalan, anggaran, dan program unggulan. Pembangunan juga menyangkut karakter, integritas, tanggung jawab, serta keteladanan para pemimpinnya.
*Kekuasaan tanpa akhlak hanya akan melahirkan kesombongan. Kebijakan tanpa tanggung jawab hanya akan menumbuhkan kekecewaan. Dan politik tanpa etika pada akhirnya akan kehilangan kepercayaan rakyat.*



