Ngopi Sewarung
Gerakan Guru Besar Otak Kecil
Oleh Uten Sutendy
SEMAKIN nyata bahwa kebencian bisa membunuh potensi kecerdasan siapa pun hingga tak bersisa.
Coba bayangkan, begitu banyak akademisi, kaum intelektual, dan tokoh agama yang terlibat dalam pusaran politik praktis. Belakangan, bahkan terdengar kabar tentang sekelompok guru besar dari berbagai perguruan tinggi yang bersedia mengorbankan waktu dan energinya untuk ikut-ikutan bermain dalam panggung politik.
Terlibat dalam politik praktis tentu sah-sah saja. Salurannya pun sudah tersedia melalui partai politik.
Namun, kalau politik praktis yang dimainkan hanya melalui aksi di jalanan dan panggung media sosial, apa sebenarnya yang hendak dicapai? Apalagi jika narasi yang dibangun sebatas mendorong orang lain untuk saling menjatuhkan dan menyebarkan kebencian. Untuk apa?
Jika tujuannya mengubah keadaan dan membangun negeri ini menjadi lebih baik, bukankah ada banyak cara yang jauh lebih bermartabat untuk dilakukan?



