Para akademisi bisa memperkuat jaringan antarkampus guna meningkatkan kualitas pendidikan dan memperbesar kontribusi perguruan tinggi sebagai salah satu sumber lahirnya kepemimpinan yang kuat, cerdas, dan berintegritas.
Mereka juga bisa ikut membenahi partai politik agar lebih mengedepankan etika, logika, dan kualitas dalam berpolitik, sekaligus memperbaiki proses pendidikan dan pengaderan politik.
Atau, memberikan masukan konstruktif kepada pemerintah tentang cara mengatasi kesulitan ekonomi, kebobrokan moral, korupsi, kerusakan lingkungan, dan berbagai persoalan bangsa lainnya.
Bukankah itu jauh lebih produktif?
Lantas, mengapa yang dilakukan justru sebaliknya? Mengapa energi intelektual yang seharusnya digunakan untuk membangun peradaban malah diarahkan pada gerakan yang berpotensi kontraproduktif?
Mau ikut-ikutan menjatuhkan wakil presiden?



