Mendengarkan bukan sekadar mendengar ucapan, melainkan memberikan rasa aman dan empati. Dalam tahap ini, tutor sebaya dilatih untuk hadir secara utuh, menjaga kerahasiaan, serta tidak menghakimi (non-judging). Tutor sebaya diajarkan bahwa peran mereka bukanlah “menyembuhkan” atau menyelesaikan masalah, melainkan menjadi pendengar yang memahami emosi teman.
Tahap Link merupakan langkah krusial untuk menjaga batasan (boundaries) dan kesehatan emosional tutor sebaya itu sendiri. Ketika permasalahan yang dihadapi teman sudah tergolong berat (seperti perundungan berulang, indikasi self-harm, atau ide menyakiti diri), tutor sebaya diajarkan untuk tidak menanggungnya sendirian, melainkan merujuk atau menghubungkan teman tersebut kepada orang dewasa tepercaya di sekolah, seperti Guru BK atau wali kelas.
Sinergi Sekolah dan Akademisi dalam Upaya Preventif
Penerapan psikoedukasi tutor sebaya ini memberikan kontribusi nyata bagi ekosistem sekolah. Menurut Gilang Fitri Ayuni, M.Psi., Psikolog (Guru BK MTsN 2 Kota Bandung), keterbatasan rasio guru BK membuat pendampingan siswa membutuhkan peran aktif dari lingkungan sebaya. Kehadiran tutor sebaya Sahabat PEKA dapat membatu mendeteksi secara dini isu-isu psikologis siswa sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih berat.


