Ditulis Ulang Oleh: H. Iding Mashudi
Tanggal Terbit: 30 November 2025
Sumber: PRIPOS ID.
Jombang, 3 Agustus 2015 — Arena Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-33 di Jombang yang sejak pagi dipenuhi riuh perdebatan mendadak terbenam dalam keheningan ketika KH. Ahmad Mustofa Bisri, atau yang akrab disapa Gus Mus, berdiri di tengah kegaduhan. Di balik sorot lampu aula besar dan ratusan suara yang saling bersaing, seorang ulama sepuh dengan langkah pelan melangkah menuju podium. Tak seorang pun menyangka bahwa momen itu akan menjadi titik balik yang menghentikan badai yang mengguncang muktamar.
Sejak awal sidang, ketegangan antar muktamirin telah mencapai puncak yang mengkhawatirkan. Perbedaan pendapat memuncak, suara meninggi, dan forum nyaris terpecah. Media nasional pun menyorot tajam suasana yang semakin memanas. Namun kejutan terbesar datang ketika Gus Mus, dengan wajah sendu namun tegas, membuka pidatonya dengan kata-kata yang langsung menusuk sanubari para peserta.
