Di akhir pernyataannya, Gus Mus menutup dengan kalimat yang membuat banyak orang kembali meneteskan air mata:
“Saya menangis… karena saya ingin Nahdlatul Ulama selamat.”
Momen dramatis itu kemudian dikenang sebagai salah satu peristiwa paling menggetarkan dalam sejarah Muktamar NU — ketika seorang ulama sepuh dengan tangisnya berhasil menghentikan badai dan mengembalikan jam’iyah pada akhlak yang menjadi jiwanya.


