Kata-kata itu membuat para kiai sepuh di belakangnya menunduk haru. Beberapa peserta yang sebelumnya bersuara paling keras tampak menyeka mata. Ruangan yang tadinya bergetar oleh perdebatan kini berubah menjadi tempat penuh kesadaran, di mana setiap orang merasa seolah ditegur langsung oleh para pendiri NU dari alam baka.
Para kiai sepuh kemudian berdiri bersama mendukung seruan Gus Mus. “NU didirikan para ulama. Jangan diruntuhkan di sini,” ujar mereka, mengulang pesan yang mendalam. Dukungan itu menjadi penegasan moral yang menghentak seluruh muktamirin.
Seruan Gus Mus akhirnya menjadi titik balik jalannya Muktamar. Perdebatan mereda, peserta kembali duduk dengan kepala tertunduk, dan suasana forum berubah dari panas menjadi teduh. Di antara hening yang menggema, terbersit kesadaran bahwa NU terlalu besar untuk dikoyak oleh perbedaan yang sepele.


