“Saya malu kepada Allah… saya malu kepada para pendiri NU,” ujarnya dengan suara parau. Tak lama kemudian, suaranya pecah. Butiran air mata menetes, membuat seisi ruangan tersentak. Para peserta yang sebelumnya bersitegang mendadak diam, seakan seluruh ruangan terselimuti doa yang tak terucap.
Dalam tangisnya, Gus Mus menumpahkan kekecewaan mendalam. Ia menyinggung headline koran pagi itu yang menuliskan: “Muktamar NU Gaduh, Muktamar Muhammadiyah Teduh.” Kalimat itu disebutnya sebagai sesuatu yang “lebih menyakitkan dari luka mana pun.” Ia mengaku malu kepada Hadratus Syaikh Hasyim Asy‘ari, KH. Abdul Wahab Chasbullah, KH. Bisri Sansuri, dan para ulama besar yang mewariskan NU sebagai jam’iyah yang bercorak akhlakul karimah.
“Kalau perlu saya akan mencium kaki Anda semua,” serunya sambil menahan isak, “agar Anda kembali memperlihatkan akhlak jam’iyah — akhlaknya Kiai Hasyim.”


