Oleh Annisa Tri Lestari & Nabil Athala Naufal (Mahasiswa Prodi Ekonomi Pembangunan Unisba)
MASJID hampir selalu ada di tengah masyarakat muslim, baik di desa maupun di pusat kota. Ironisnya, kehadiran fisik yang begitu masif tidak selalu berbanding lurus dengan peran sosial bagi umat.
Secara ideal, masjid tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan ibadah ritual tetapi juga ruang sosial yang hidup bersama umat. Namun dalam praktiknya, tidak sedikit masjid yang hanya ramai pada waktu-waktu salat namun sepi dari aktivitas sosial yang menyentuh persoalan riil jamaah di sekitarnya. Kondisi ini menegaskan adanya jarak yang lebar antara fungsi ideal masjid sebagai pusat kehidupan umat dan realitas persoalan masyarakat muslim kontemporer.
Dalam beberapa dekade terakhir, pembangunan masjid di berbagai daerah cenderung terjebak pada orientasi fisik dan kemegahan arsitektur. Anggaran besar digelontorkan untuk renovasi bangunan, ornamen, dan estetika ruang ibadah. Ironisnya, kemegahan tersebut sering berdiri berdampingan dengan kemiskinan, keterbatasan pendidikan dan ketimpangan sosial jamaah di sekitarnya. Masjid pun tampil megah sebagai simbol tetapi absen sebagai solusi umat.