Kekuatan utama Masjid Jogokariyan terletak pada transparansi keuangan dan prinsip distribusi dana yang cepat kepada jamaah. Dana masjid tidak ditumpuk sebagai saldo pasif tetapi dialirkan kembali dalam bentuk program sosial dan ekonomi produktif. Praktik ini membuktikan bahwa masjid dapat dikelola secara mandiri tanpa ketergantungan penuh pada dana negara. Ironisnya, model seperti ini belum menjadi arus utama pengelolaan masjid di Indonesia, menandakan lemahnya sistem pembelajaran dan replikasi praktik baik antarmasjid. Keberhasilan masjid sering berhenti sebagai daya tarik simbolik, bukan menjadi ruang refleksi dan transformasi pengelolaan masjid lainnya.
Di sisi lain, Masjid Agung Bandung memiliki posisi strategis sebagai masjid kota sekaligus ikon keislaman di ruang publik perkotaan. Dengan legitimasi sosial dan sumber daya yang besar, absennya peran signifikan dalam pemberdayaan ekonomi justru menunjukkan persoalan orientasi, bukan keterbatasan kapasitas. Hingga kini Masjid ini belum sepenuhnya menjadi magnet bagi umat untuk menitipkan zakat, infaq, sadaqah bahkan dan waqaf dalam skala besar, yang dapat dikelola secara produktif bagi penguatan ekonomi umat.