Oleh: Lukman Priyandono
BAYANGKAN suatu pagi kamu membuka laptop di ruang tamu rumah. Tidak ada kemacetan jalan raya, tidak ada antrean lift kantor, dan tidak ada suara mesin absensi. Yang ada hanya secangkir kopi, koneksi internet, dan daftar pekerjaan yang harus diselesaikan. Selamat datang di dunia Work From Home (WFH).
Belakangan ini wacana WFH kembali ramai dibicarakan. Pemerintah bahkan mendorong sebagian pegawai untuk bekerja dari rumah setidaknya satu hari dalam seminggu sebagai upaya mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dan kemacetan kota. Di atas kertas, ide ini terdengar sederhana: lebih sedikit orang berangkat ke kantor berarti lebih sedikit kendaraan di jalan.
Tapi di balik kebijakan itu muncul pertanyaan yang lebih dalam: ketika kantor pindah ke rumah, siapa yang memastikan pekerjaan tetap dijalankan dengan penuh tanggung jawab? Selama puluhan tahun, budaya kerja kita dibangun di atas satu hal sederhana: kehadiran fisik. Datang tepat waktu, duduk di meja kerja, lalu pulang setelah jam kantor selesai. Bagi banyak organisasi, kehadiran di kantor sering dianggap sebagai tanda disiplin.