Pangan yang tidak aman dapat mengandung bakteri, virus, parasit, maupun bahan kimia berbahaya yang berhubungan dengan lebih dari 200 jenis penyakit, mulai diare hingga kanker. Kondisi ini bisa memperburuk masalah gizi, terutama pada bayi, anak kecil, lansia, dan mereka yang daya tahan tubuhnya lemah. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, produsen pangan, dan konsumen sangat dibutuhkan untuk memperkuat sistem keamanan pangan.
Penyakit akibat makanan biasanya menular atau bersifat toksik. Kontaminasi bisa datang dari bakteri seperti Salmonella dan E. coli, racun alami dari bahan tertentu, pestisida yang menempel pada sayuran dan buah, bahkan makanan basi yang dipanaskan ulang. Semua itu adalah ancaman nyata yang bisa masuk ke tubuh tanpa disadari.
Gejala keracunan makanan pun perlu dikenali sejak awal. Beberapa jam setelah mengonsumsi makanan yang tercemar, tubuh biasanya mulai bereaksi. Mual muncul lebih dulu, kemudian muntah sebagai cara tubuh mengeluarkan zat berbahaya. Tak lama, diare menyusul, seringkali
disertai kram atau nyeri perut. Demam ringan, sakit kepala, rasa lemas, dan perut kembung juga sering dialami. Pada kasus berat, gejalanya bisa lebih serius: muntah atau diare berdarah, dan dehidrasi berat. Jika gejala ini muncul setelah makan bersama di sekolah, hajatan, atau katering, besar kemungkinan itu adalah keracunan massal.