Oleh Dr. Ayi Sobarna, M.Pd. (Ketua Program Studi PG PAUD FTK Unisba)
BELAKANGAN ini, publik, bukan hanya di Jawa Barat, juga di propinsi lain, ramai membicarakan kebijakan kontroversial dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang melarang sekolah menyelenggarakan kegiatan study tour. Tak sedikit yang menyambut baik tapi tak sedikit pula yang bertanya-tanya: benarkah larangan ini solusi terbaik? Apakah Gubernur Dedi benar-benar anti study tour?
Jika kita melihat niatnya, larangan ini sebenarnya muncul dari kepedulian. Gubernur ingin melindungi anak-anak dari kegiatan “study tour rasa piknik” yang lebih banyak menjadi ajang konsumtif daripada edukatif. Bahkan, tak jarang pula kegiatan ini memberatkan orang tua secara ekonomi, membuka ruang bisnis tak sehat, serta menyebabkan kecemburuan sosial di antara siswa.
Namun, kebijakan yang bersifat menyapu bersih seluruh kegiatan study tour justru berisiko membuang air bersama embernya. Tak semua study tour adalah buruk. Bahkan, jika dilakukan secara tepat, kegiatan ini menjadi bagian penting dalam pendidikan holistik: mengasah keterampilan sosial, memperluas wawasan, dan menanamkan nilai-nilai kebangsaan secara kontekstual.