Ketika anggaran pendidikan yang seharusnya digunakan untuk memperbaiki gedung sekolah yang ambruk, meningkatkan kesejahteraan guru atau mendanai penelitian inovatif justru terserap ke meja makan, terlihat ada ruang kebijakan yang menyempit. Investasi pada modal manusia (human capital) bukan sekadar kecukupan kalori, melainkan soal kualitas kognitif yang sehat secara fisik tetapi gagap dalam persaingan global. Bonus demografi bisa berubah menjadi bencana demografi, jika jutaan pemuda kita hanya kuat secara fisik tetapi tidak memiliki daya saing digital dan literasi yang dibutuhkan industri masa depan.
Investasi pendidikan bersifat long term return. Dampaknya tidak mungkin terlihat secepat rasa kenyang setelah makan, namun hasilnya adalah peningkatan produktivitas nasional. Jika anggaran pendidikan tergerus untuk program konsumsi jangka pendek, kami khawatir Indonesia akan terjebak dalam middle income trap karena negara gagal menciptakan tenaga kerja yang kreatif dan inovatif.


