Oleh Melvin Zakri, SE., MM (Mahasiswa Program Studi Doktor Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Bandung, Dosen Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang)
DUNIA hari ini sedang berdiri di sebuah titik krusial. Di satu sisi, optimisme terhadap kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligence) menjanjikan lompatan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi global. Namun di sisi lain, ketegangan geopolitik, terutama konflik di kawasan Timur Tengah, menghadirkan bayang-bayang krisis yang tidak bisa diabaikan. Tahun 2026 menjadi momentum yang memperlihatkan paradoks tersebut secara nyata: ekonomi global tampak tangguh tetapi sekaligus rapuh.
Lembaga seperti IMF (International Monetary Fund atau Dana Moneter Internasional) memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi global masih relatif stabil di kisaran 3 persen pada 2026, didorong oleh investasi besar di sektor teknologi, khususnya AI. Investasi ini tidak hanya mempercepat digitalisasi tetapi juga menciptakan ekspektasi baru terhadap peningkatan produktivitas global. Bahkan, beberapa negara besar seperti Amerika Serikat dan China tetap menunjukkan kinerja pertumbuhan yang cukup solid berkat dorongan sektor teknologi.