Solusi: Integrasi, Bukan Substitusi
Kritik kami sebagai mahasiswa bukan menolak pemberian gizi. Kami menawarkan perspektif agar kebijakan ini lebih tepat sasaran: 1) Reposisi anggaran: MBG seharusnya masuk ke dalam pos kesehatan preventif atau jaring pengaman sosial, sehingga tidak memakan anggaran peningkatan mutu akademik; 2) Fokus Lokasi: Fokuskan anggaran pada wilayah dengan kejadian stunting kronis dan keluarga miskin ekstrem, bukan dipukul rata secara nasional yang berisiko tidak efisien; 3) Keseimbangan investasi: Negara harus memastikan perut anak Indonesia terisi, tetapi pikiran mereka juga harus penuh ilmu pengetahuan yang relevan dengan kemajuan zaman.
Membangun manusia Indonesia tidak bisa dilakukan sepotong-sepotong. Gizi dan pendidikan adalah dua sisi koin yang sama. Gizi bukan pengganti pendidikan. Gizi dan pendidikan harus bersamaan. Menjadikan anggaran pendidikan sebagai kantong utama program makan gratis adalah pilihan yang berisiko. Kami tidak ingin di tahun 2045, Indonesia memiliki barisan pemuda yang gagah secara fisik, namun hanya menjadi penonton di negeri sendiri karena kalah bersaing dalam kualitas pikir. Jangan sampai bonus demografi habis di ujung piring sebelum sempat sampai ke ruang kelas.***


