Dalam buku saku kader yang dirancang oleh tim PKM FK Unisba, fenomena ini dijabarkan melalui tanda-tanda yang sering luput dari perhatian. Pertama, Menetek Terputus. Bayi sering berhenti menetek untuk mengambil napas terengah-engah karena kelelahan fisik. Kedua, Keringat Berlebih: Keluar keringat dingin berlebihan di dahi saat anak sedang makan, menyusu, atau bahkan saat tidur. Inilah mengapa PJB seringkali bersembunyi di balik diagnosa malnutrisi kronis. Sang anak sebenarnya “kelaparan” energi karena mesin utama tubuhnya bekerja terlalu berat.
Penghalang Diagnosis
Dalam kegiatan PKM dijelaskan bahwa akses kesehatan bukan hanya soal jarak tapi ketersediaan jaring pengaman. Data statistik menunjukkan kesenjangan ditemukan di Kabupaten Bandung Barat. Pertama, Rasio Puskesmas. saat ini satu Puskesmas harus melayani rata-rata 55.648 penduduk, hampir dua kali lipat dari standar ideal nasional (1:30.000). Kedua, Kebutuhan Mendesak. Dibutuhkan tambahan sekitar 28 Puskesmas lagi untuk mencapai pelayanan yang manusiawi. Ketiga, Keterbatasan Rujukan. Dengan hanya 9 rumah sakit untuk 1,7 juta jiwa, rasio rujukan berada pada angka 1:197.863. Beban fasilitas yang berlebihan ini membuat geografi menjadi ko-morbiditas. Pegunungan yang sulit ditembus bukan sekadar tantangan logistik, melainkan penghalang diagnosis yang sering kali baru terpecahkan saat komplikasi berat seperti infeksi paru (pneumonia) atau gagal tumbuh sudah mencapai tahap kritis.


