Menurut Maya, inovasi digital di Pengadilan Tinggi Bandung menandai perubahan besar dalam tata kelola layanan publik, yang kini lebih akuntabel, transparan, inklusif, dan mudah diakses oleh masyarakat. Tidak hanya mengandalkan sistem digital, pelayanan peradilan juga menekankan peran manusia sebagai penggerak utama transformasi.
“Aparatur bukan sekadar operator teknologi tetapi penjaga nilai empati, etika, dan profesionalisme dalam setiap interaksi dengan publik,” ujar Maya dalam pemaparan hasil disertasinya.
Penelitiannya menekankan bahwa keberhasilan transformasi digital di sektor publik bergantung pada keseimbangan antara rasionalitas teknologi dan kehangatan komunikasi manusia. Dari hasil penelitian tersebut, Maya memperkenalkan Model BRIDGE (Building Responsive Interpersonal & Digital Governance for Everyone), sebuah model konseptual yang menegaskan pentingnya tata kelola digital yang tetap berorientasi pada nilai kemanusiaan.
