Di Icakan, ia membuat target untuk dirinya sendiri: 10 juz setiap semester. Target itu perlahan tercapai. Semester pertama 10 juz, semester kedua kembali 10 juz, hingga akhirnya seluruh hafalan 30 juz berhasil diselesaikan dalam waktu sekitar satu tahun empat bulan.
Perjalanan Aghsally tidak berhenti setelah hafalannya selesai. Ia melanjutkan proses belajar dan kemudian menjalani pengabdian dengan mengajar di Riau. Selama di sana, ia mengampu halaqah tahfizh hingga akhirnya kembali ke Bandung dan memilih melanjutkan pendidikan di Unisba.
PAI menjadi pilihannya karena terasa dekat dengan perjalanan hidupnya. Latar belakang pesantren dan tahfizh, ditambah pengalaman mengajar, membuatnya ingin mendalami pendidikan Islam secara formal.
Kini, tantangannya berubah. Bukan lagi sekadar menambah hafalan tetapi mempertahankan 30 juz di tengah jadwal kuliah dan berbagai aktivitas mahasiswa.


