MEMASUKI dunia kuliah menjadi cerita baru bagi Aghsally Tsabit Aqdami dan Muhammad Fauzan Nur Alif Lalana. Keduanya sama-sama datang sebagai mahasiswa baru Universitas Islam Bandung (Unisba), dengan satu hal yang sudah mereka bawa sejak lama yaitu hafalan 30 juz Al-Qur’an.
Keduanya merupakan penerima Beasiswa Mujahid, Mujtahid, dan Mujaddid (3M) Unisba Kategori Hafizh Al-Qur’an. Di balik pencapaian tersebut, ada cerita tentang proses panjang, rasa lelah, dukungan keluarga, hingga usaha untuk tetap konsisten menjaga hafalan.
Aghsally, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, mengawali kisahnya dari pengalaman yang cukup sederhana. Sejak kelas 4 SD, ia sudah mondok. Namun, ketika SMP, ia mengaku belum benar-benar serius dengan hafalannya. “Saya waktu di SMP kebanyakan main,” katanya.
Pengalaman itu justru menjadi titik balik. Saat masuk SMA, Aghsally memilih meninggalkan lingkungan lamanya dan melanjutkan pendidikan di Markaz Tahfizh Icakan, Ciamis. Baginya, pindah ke lingkungan baru menjadi kesempatan untuk memulai kembali. “Kalau di sini masih main-main terus, enggak diselesaikan hafalannya, bakal sama saja kejadiannya sama yang di SMP,” ujarnya.


