Ia pun menyiapkan kebiasaan sederhana untuk menjaga hafalannya di tengah kuliah. Tidak harus selalu dalam waktu yang panjang. Membaca lima hingga 10 halaman di sela kesibukan pun menurutnya sudah cukup untuk menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an setiap hari.
Aghsally dan Fauzan kini sama-sama memulai babak baru di Kampus Biru. Mereka tidak lagi berada di lingkungan pesantren yang mengatur ritme hafalan seperti sebelumnya. Di kampus, mereka harus belajar mengatur waktu sendiri, membagi perhatian antara kuliah, aktivitas mahasiswa, dan murajaah.
Namun, keduanya memiliki tujuan yang lebih jauh dari sekadar menyelesaikan studi.
Aghsally berharap suatu hari dapat membangun lembaga tahfizh atau pondok pesantren sendiri dan terus mencetak generasi Qur’ani. Sementara Fauzan ingin menggunakan ilmu dan hafalan yang dimilikinya untuk ikut menyebarkan dan membumikan Al-Qur’an.


