Aghsally memilih cara sederhana yakni menyediakan waktu setiap hari untuk murajaah. Waktu sebelum atau sesudah Subuh, misalnya, bisa digunakan untuk membaca satu atau dua juz. Baginya, yang paling penting adalah konsistensi. “Yang penting istiqamah, konsisten tiap hari harus ada yang dibaca,” tuturnya.
Cerita lain datang dari Fauzan. Mahasiswa Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik ini mulai menghafal Al-Qur’an sejak kelas 3 SD di Pondok Pesantren Tahfiz Al-Al Azka, Cisauk, Tangerang – Banten.
Empat tahun kemudian, saat duduk di kelas 1 SMP, ia berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz.
Tentu proses tersebut tidak selalu mudah. Fauzan mengaku pernah merasa lelah dan bahkan muncul keinginan untuk menyerah. Namun, dukungan orang tua dan bimbingan ustaz membuatnya terus melangkah. “Saya tahu bahwa hafalan Al-Qur’an ini tujuan yang mulia,” katanya.


