Peserta kemudian mempraktikkan tahapan membatik mulai dari persiapan alat dan bahan, proses pencapan, pewarnaan, penguncian warna menggunakan waterglass, pelarutan malam, hingga penjemuran.
Perwakilan Tim PkM, Dr. Ahmad Faizal Adha, S.H.I., M.Ag., mengatakan Batik Khas Ujungberung tidak hanya menjadi produk kerajinan tetapi juga merepresentasikan sejarah, filosofi, dan identitas masyarakat setempat.
“Batik Khas Ujungberung bukan sekadar kain hiasan, melainkan kristalisasi dari nilai sejarah, filosofi, dan identitas masyarakat Ujungberung. Melalui literasi hak cipta dan pendampingan dari tahap awal hingga diseminasi, kita tidak hanya melestarikan warisan leluhur tetapi juga memberikan kepastian hukum dan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Menjadi Awal Pengembangan Berkelanjutan
Peluncuran Batik Khas Ujungberung menjadi awal dari pengembangan program secara berkelanjutan. Ke depan, produksi batik direncanakan dilakukan secara berkala dan dapat dimanfaatkan sebagai seragam sekolah, pakaian resmi instansi, maupun busana dalam berbagai kegiatan Kasundaan di wilayah Ujungberung.


