Dalam paparannya yang disambut antusias, Ratri menguraikan bagaimana Generasi Z — kelompok muda yang tumbuh bersama teknologi digital — menjadi aktor utama di ruang media sosial yang sarat arus informasi cepat, instan, dan sering kali menyesatkan. Penelitian ini berangkat dari kegelisahan akademik terhadap meningkatnya paparan hoaks yang menimpa mahasiswa dan anak muda, yang justru sering diposisikan sebagai korban pasif dalam diskursus literasi media.
“Generasi Z memiliki potensi besar untuk menjadi agen resistensi terhadap hoaks. Namun, potensi itu kerap tidak terlihat karena narasi publik lebih sering menempatkan mereka sebagai kelompok yang mudah terpengaruh, bukan sebagai khalayak aktif yang kritis,” ungkap Ratri dalam sesi pembelaan disertasinya.
Melalui pendekatan etnografi khalayak kritis, Ratri meneliti secara mendalam praktik bermedia mahasiswa Gen Z yang aktif di media sosial dan aplikasi percakapan seperti Instagram, TikTok, X (Twitter), serta WhatsApp. Ia memerhatikan bagaimana mereka membaca, menafsirkan, dan menegosiasikan pesan-pesan yang berpotensi menyesatkan, sembari tetap berinteraksi dengan berbagai lapisan wacana digital di sekitarnya.