Ratri juga menegaskan bahwa budaya bermedia Gen Z tidak semata-mata ditentukan oleh teknologi tetapi oleh relasi kuasa media digital yang bekerja melalui algoritma, viralitas, dan monetisasi. Dalam ruang yang dikendalikan oleh sistem kapitalisme digital, Gen Z menjadi pihak yang bernegosiasi antara resistensi dan kerentanan. Di satu sisi, mereka memanfaatkan media untuk mengekspresikan identitas dan ideologi. Namun di sisi lain, mereka juga rentan terjebak dalam arus informasi yang bias dan manipulatif.
Nilai Keislaman
Menariknya, penelitian ini tidak hanya berfokus pada aspek teknologi dan perilaku tetapi juga berakar pada nilai-nilai Islam. Ratri menemukan prinsip tabayyun, qaulan sadida, dan amar ma’ruf nahi munkar sebagai landasan moral dalam membangun budaya bermedia yang beretika. Ia menafsirkan ayat Al-Qur’an tidak semata sebagai ajaran moral tetapi juga sebagai kerangka komunikasi yang relevan dengan etika digital masa kini. “Tabayyun bukan sekadar ajaran agama tetapi juga bentuk literasi kritis yang menuntun pengguna media agar berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan informasi,” tutur Ratri.