Hasil riset ini melahirkan sebuah model konseptual yang disebut “Budaya Bermedia Gen Z Menghadapi Hoaks”, yang menggambarkan bagaimana generasi muda memaknai, memfilter, dan menegosiasikan arus informasi palsu. Dalam model tersebut, Ratri menemukan adanya lima bentuk posisi pembacaan terhadap hoaks: dominan-hegemonik, negosiasi, oposisi, apatis, dan strict filtering. Dua posisi terakhir, yakni apatis dan strict filtering, merupakan temuan baru yang memperkaya teori encoding/decoding dari Stuart Hall.
Menurut Ratri, posisi apatis muncul pada kalangan Gen Z yang mengalami information fatigue atau kelelahan informasi sehingga memilih untuk tidak peduli terhadap isu yang beredar. Sementara posisi strict filtering menggambarkan kelompok yang semakin selektif, menggunakan alat penyaring informasi, serta mengandalkan komunitas verifikasi fakta untuk menekan penyebaran hoaks. “Keduanya mencerminkan realitas psikologis dan sosial yang khas di era algoritma media sosial,” jelasnya.