“Setiap mahasiswa memiliki kebutuhan yang berbeda. Kami melakukan pemetaan sejak awal, kemudian berdialog untuk mengetahui bentuk dukungan yang diperlukan. Jika ada kebutuhan yang bisa difasilitasi Unisba, kami siapkan akomodasi yang layak agar mereka dapat mengikuti proses akademik maupun nonakademik secara optimal,” jelasnya.
Ke depan, Unisba juga tengah mengembangkan Learning Management System (LMS) yang lebih ramah disabilitas. Selain itu, berbagai bentuk layanan akademik akan terus disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa, termasuk fleksibilitas dalam proses pembelajaran maupun evaluasi bagi mahasiswa dengan kondisi tertentu.
Meski demikian, Asnita mengakui tantangan terbesar dalam membangun kampus inklusif bukan hanya terletak pada penyediaan infrastruktur, tetapi juga membangun kesadaran seluruh sivitas akademika.
“Tantangan terbesar kami adalah membangun mindset. Kampus inklusif bukan hanya hubungan antara mahasiswa dengan rektorat, tetapi juga bagaimana dosen, tenaga kependidikan, teman sekelas, organisasi mahasiswa, hingga lingkungan kampus memahami dan mendukung mahasiswa disabilitas,” ungkapnya.


