Selain memperkuat sosialisasi, Unisba juga terus melakukan audit terhadap fasilitas kampus agar semakin ramah disabilitas, termasuk aksesibilitas gedung, tempat ibadah, hingga tampilan situs web yang lebih ramah bagi pengguna dengan keterbatasan penglihatan (low vision friendly).
Penghargaan ini sekaligus menjadi pijakan bagi Unisba untuk menghadirkan berbagai program lanjutan, seperti penyusunan pedoman layanan disabilitas, peningkatan infrastruktur, pembentukan relawan pendamping mahasiswa disabilitas, pelatihan bahasa isyarat, serta berbagai program peningkatan kapasitas yang melibatkan dosen maupun mahasiswa.
Bagi Asnita, keberhasilan membangun kampus inklusif harus diwujudkan dalam aksi nyata, bukan sekadar penghargaan.
“Target kami sekarang adalah menerjemahkan penghargaan ini menjadi tindakan nyata. Bagaimana pembelajaran menjadi lebih inklusif, layanan semakin baik, dan seluruh sivitas akademika memiliki kepedulian yang sama dalam mendukung mahasiswa disabilitas,” katanya.


