Ironisnya, selama ini kita mengadu ke bagian personalia. Tapi ketika mereka sibuk mengadopsi teknologi, siapa yang membela kita? Fungsi kepegawaian masih berkutat pada urusan administratif: ngurus kontrak, hitung gaji, jadi polisi absensi. Padahal dalam Islam, memimpin berarti melayani. Ketika teknologi mengambil alih, bagian personalia kehilangan relevansi. Mereka sibuk mengoperasikan software, lupa bahwa di balik data ada manusia. Di era mesin mulai jadi bos, kebutuhan akan pembela justru besar. Rasulullah SAW bersabda, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.
Dave Ulrich mengingatkan bahwa pengelola SDM harus jadi champion pembela karyawan dan mitra strategis. Dalam Islam, ini sejalan dengan konsep “khalifah” yang menjaga keseimbangan dan keadilan. Peran pertama: pembela karyawan. Ketika algoritma merekrut, menilai, atau memecat, tim kepegawaian harus hadir memastikan keadilan. Yang lemah jangan tertindas angka buta. Konteks personal harus diperhitungkan. Allah SWT memerintahkan kita berlaku adil karena adil lebih dekat kepada takwa. Peran kedua: agen perubahan. Transformasi digital bukan sekadar beli software tapi perubahan budaya. Bagian personalia harus memastikan saat perusahaan mengejar efisiensi, tak ada karyawan tertinggal. Dalam syariah, perubahan harus membawa maslahat bagi semua.
PR Besar Pengelola SDM Indonesia
Di Indonesia, tantangan ini makin nyata. Banyak perusahaan adopsi teknologi tapi dampak sosialnya diabaikan. Bagian kepegawaian masih jadi tukang administrasi. Kesejahteraan psikologis karyawan jarang prioritas. Padahal dalam Islam, menjaga jiwa (hifdz al-nafs) adalah tujuan utama syariah.