Sinergi kampus dengan desa pada akhirnya membentuk desa pembelajar, sekaligus melahirkan paradigma baru pendidikan tinggi. Ketika mahasiswa terlibat langsung dalam perencanaan pembangunan, pengelolaan dana desa dan pendampingan ekonomi masyarakat maka orientasi pendidikan tidak lagi hanya menyiapkan lulusan untuk bekerja di kantor-kantor perkotaan. Pengalaman riil di desa memperkenalkan mahasiswa akan potensi ekonomi lokal, persoalan kelembagaan serta peluang pembangunan yang selama ini luput dari ruang kelas. Dari proses inilah akan terbuka kemungkinan lahirnya alumni yang tidak hanya memahami desa tetapi memilih kembali dan berkontribusi membangun desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. Tanpa kehadiran kampus dan mahasiswa di desa, Dana Desa berisiko terus menjadi anggaran besar dengan perubahan kecil bagi kesejahteraan masyarakat desa.**


