Oleh Mohamad Safii bersama Prof. Dr. Muhardi, S.E., M.M., Prof. Dr. Tasya Aspiranti, S.E., M.M., dan Prof. Dr. Ima Amaliah.,S.E.,M.Si.
DI TENGAH dinamika lingkungan organisasi yang kian kompleks, kemampuan untuk bertahan dan unggul tidak lagi ditentukan semata oleh visi besar atau strategi yang terdengar futuristik. Ketidakpastian ekonomi global, percepatan transformasi digital, serta meningkatnya intensitas persaingan menuntut organisasi baik di sektor bisnis, publik, maupun pendidikan untuk mengelola sumber dayanya secara lebih cermat dan terintegrasi. Dalam konteks inilah, sinergi antara manajemen strategik dan manajemen keuangan menjadi fondasi utama bagi daya saing jangka panjang.
Manajemen strategik pada hakikatnya berfungsi sebagai kompas organisasi. Ia mengarahkan visi, misi, serta tujuan jangka panjang melalui analisis lingkungan internal dan eksternal, sekaligus merumuskan strategi yang diharapkan mampu menjawab berbagai tantangan. Namun, dalam praktiknya, tidak sedikit organisasi yang terjebak pada euforia perencanaan. Dokumen strategis disusun dengan rapi, target dicanangkan secara ambisius tetapi implementasi berjalan terseok-seok. Salah satu penyebab utamanya adalah keterputusan antara perencanaan strategis dan kapasitas keuangan yang dimiliki. Strategi yang baik seharusnya tidak hanya visioner tetapi juga operasional dan realistis.