Fenomena ini memperkuat narasi bahwa AI telah menjadi “mesin baru” pertumbuhan ekonomi dunia. Infrastruktur digital, pusat data, hingga industri semikonduktor berkembang pesat, menciptakan efek berganda (multiplier effect) terhadap sektor lain. Dalam konteks ini, ekonomi global tampak resilien (tangguh), mampu bertahan bahkan setelah dihantam pandemi, inflasi tinggi, dan gangguan rantai pasok (supply chain disruption) dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, optimisme tersebut tidak berdiri di ruang hampa. Realitas geopolitik justru menunjukkan arah yang berlawanan. Konflik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran, telah mengganggu stabilitas pasar energi global. Penutupan jalur strategis seperti Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia, memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara.