Dampaknya tidak sederhana. Kenaikan harga energi secara langsung meningkatkan biaya produksi, mempersempit margin industri, dan pada akhirnya menekan daya beli masyarakat. IMF bahkan memperingatkan bahwa gangguan pasokan minyak, gas, dan pupuk dapat menyebabkan kenaikan harga pangan dan energi secara global, yang berujung pada perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Sementara itu, OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) atau Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi global akan melambat menjadi sekitar 2,9 persen pada 2026, turun dari tahun sebelumnya. Di saat yang sama, inflasi di negara-negara G20 (Group of Twenty) atau kelompok 20 negara dengan ekonomi terbesar di dunia diproyeksikan meningkat hingga sekitar 4 persen, jauh di atas target ideal bank sentral. Kondisi ini menghidupkan kembali kekhawatiran munculnya fenomena stagflasi (stagnasi ekonomi yang disertai inflasi tinggi).