Lebih lanjut, Nasaruddin menegaskan pentingnya menjaga hubungan manusia dengan alam atau Permahan sebagai bagian dari kesadaran spiritual ekologis. Ia mengingatkan bahwa ketika alam tidak dihormati dan disakralkan, maka manusia sesungguhnya mempercepat datangnya bencana bagi dirinya sendiri. “Kita kenal juga apa yang disebut dengan Palemahan, hubungan manusia dengan alam semesta seperti yang disampaikan tadi Pandita kita tadi, bahwa alam yang tidak dihormati, alam yang tidak disakralkan itu pertanda kita sama dengan mengundang kiamat ini akan lebih cepat datang,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Menag menekankan bahwa keseimbangan antara hubungan manusia dengan manusia, alam, dan Tuhan merupakan satu kesatuan utuh dalam ajaran Tri Hita Karana. “Kemudian di samping itu juga tidak ada artinya kita berbicara tentang Pawongan, Permahan tanpa bicara tentang Parahyangan. Parahyangan ini adalah hubungan antara manusia dan Tuhan, alam dengan Tuhan. Jadi triangle ini, segitiga ini memang harus disatukan,” jelasnya.