Lebih lanjut, Nasaruddin menilai bahwa peran bahasa dan ajaran agama sangat besar dalam mendorong manusia untuk memiliki kesadaran ekologis dan spiritual yang utuh. “Kita juga diajak tadi oleh para pembicara bagaimana menciptakan suatu kesadaran paripurna di dalam diri kita masing-masing. Jangan kita terlalu diciptai oleh pikiran semata ya, tapi kita juga perlu memperhatikan dunia rasa kita, dunia rohani kita, spiritualitas kita, sebab kunci kebahagiaan itu ya dari dalam dan dari luar juga. Jadi bahasa agama sangat penting untuk melestarikan lingkungan,” tambahnya.
Ia juga menekankan bahwa penerapan ekoteologi, yaitu cara pandang teologis yang selaras dengan alam, sesungguhnya dapat memperkuat nilai-nilai moderasi beragama, toleransi, dan kerukunan yang telah menjadi ciri khas bangsa Indonesia. “Ketika implementasi ekoteologi dengan baik, kita mungkin tak perlu mendengungkan lagi moderasi beragama, seolah-olah agamanya gak moderat maka perlu dimoderasi. Mungkin tidak perlu kita juga mendengungkan toleransi, seolah-olah kita tidak toleran selama ini. Mungkin tidak perlu juga kita terlalu banyak mendengungkan kerukunan, seolah-olah kita selama ini gak rukun, padahal kenyataannya kan kita sangat rukun. Tapi kalau kita berbicara tentang ekoteologi, itu substansi daripada kehidupan beragama,” tegasnya.