Di negeri itu, jabatan tidak jatuh kepada orang paling pandai, tetapi kepada lidah paling licin. Para ilmuwan menemukan bahwa lidah penjilat memanjang ketika ada kursi kosong. Bila kursinya empuk, panjangnya bertambah; bila dilengkapi mobil dinas dan anggaran perjalanan, lidah itu bisa mengelilingi bumi, mampir ke bulan, lalu pulang membawa surat keputusan. Penelitian tersebut hendak diterbitkan di jurnal internasional yang jurnalnya lebih dahulu menjilat sponsor.
Menjilat kemudian menjadi budaya kantor. Setiap Senin digelar apel lidah. Pegawai berdiri menghadap podium dan menyanyikan lagu: “Maju tak gentar, membela yang membayar.” Pegawai kritis dipindahkan ke ruang bawah tanah bersama arsip lama dan cita-cita reformasi. Sementara itu, pegawai yang selalu hadir sebelum atasan, pulang sesudahnya, dan tetap memuji ketika atasannya tidak masuk, segera dianggap layak menjadi kepala bidang. Kompetensi bisa menyusul; integritas dapat diunduh.



