Mereka menyebut tindakan itu pengabdian atau diplomasi lidah. Padahal kesetiaan mereka bukan kepada manusia, gagasan, atau negara, melainkan kepada posisi. Ketika kursi berpindah, lidah ikut pindah. Penguasa jatuh, mereka menjadi orang pertama yang berkata, “Sejak dahulu saya sudah curiga.”
Jangan terlalu cepat menertawakan mereka. Barangkali di dalam mulut kita sendiri tinggal penjilat kecil yang bangun ketika kita memuji demi keuntungan, diam di hadapan kesalahan, atau mengubah pendirian karena mencium aroma jabatan. Bedanya hanya ukuran lidah dan besar imbalan.
Cermin tak pernah menjadi pejabat. Ia hanya memantulkan kenyataan, tanpa menyanjung keriput sebagai prestasi pembangunan atau kebotakan sebagai perluasan ruang terbuka. Karena jujur, cermin tak pernah dipromosikan.
Suatu malam, para penjilat bermimpi lidah mereka kaku. Pagi harinya kantor-kantor sunyi. Atasan gelisah karena tak ada yang menyebut mereka hebat; pejabat bercermin dan melihat wajah sendiri tanpa bingkai pujian. Untunglah mimpi segera berakhir. Lidah kembali lentur, pujian beterbangan, jabatan kembali berjatuhan.**



