Menjilat akhirnya menjadi industri nasional. Pabrik menawarkan pelumas lidah bermerek “Asal Bapak Senang” dan “Saya Sependapat Sebelum Bapak Berpendapat”. Iklannya menjanjikan pangkat, proyek, dan perjalanan dinas, dengan bonus prinsip yang rontok tanpa rasa sakit. Rumah sakit pun membuka poliklinik kehilangan tulang belakang. Seorang pasien mengeluh sulit berdiri tegak sejak atasannya naik pangkat. Dokter mendiagnosis: tulang belakangnya telah berubah menjadi tangga karier.
Bahkan keluarga ikut berlatih. Anak memuji ayah karena nasi gosongnya “beraroma kebijakan”. Ibu dipuji sebab marahnya “tegas dan visioner”. Makan malam berlangsung damai, kecuali sendok yang ingin mengajukan keberatan.
Dalam politik, para penjilat membentuk partai dan berjanji membela rakyat. Ketika ditanya rakyat yang mana, ketuanya menjawab, “Nanti kita lihat siapa yang menang.” Janji pun meledak seperti petasan; asapnya naik ke langit, sementara sumbunya dibebankan kepada anggaran negara.



