Kedua, konsep katarsis pertama kali dikemukakan Aristoteles pada masa Yunani Kuno sebagai pelepasan emosi negatif penonton melalui teater tragedi. Menurut Bemak dan Young, konsep ini menjelaskan salah satu fungsi psikologis penting dari teater tragedi bagi penontonnya. Menurut Hardy, katarsis adalah proses penyelesaian sebagian atau seluruh perasaan yang mengganjal dengan melepaskan ketegangan batin. Fungsi ini berlaku dua arah: aktor memproses dan menyalurkan energi emosionalnya melalui perannya, sementara penonton turut “berproses” dan merasa lega setelah menyaksikan pertunjukan. Prinsip inilah yang membuat teater menjadi wahana yang tepat untuk membahas topik-topik berat seperti gangguan kepribadian narsistik, bipolar, kecemasan, relasi toxic, maupun PTSD—topik yang bila disampaikan lewat ceramah formal berisiko terasa menggurui tetapi ketika dibungkus lewat kisah dan emosi yang otentik, dapat lebih mudah menyentuh dan diterima penonton.


