“Jadi setiap aktor itu punya satu isu psikologis yang diperankan, dan dalam dialog maupun gesturnya, kami bentuk supaya semirip mungkin dengan kondisi yang sebenarnya dialami orang dengan kondisi tersebut,” ungkap Hasna Atsriya Amna (sutradara) . Isu-isu yang diangkat dalam naskah antara lain kecenderungan kepribadian narsistik, gangguan bipolar, kecemasan berlebih dan overthinking, relasi yang toxic, serta trauma pascakejadian traumatis (PTSD). Naskah dan gagasan cerita ditulis oleh Akmal Rahman, alumnus Fakultas Psikologi Unisba sekaligus alumnus KBU, yang tahun ini turut mendampingi proses produksi.
Sejak berdiri, Kabaret Ungu memang dirancang bukan semata sebagai wadah berkesenian, melainkan sebagai media pembelajaran psikologi bagi masyarakat luas dengan cara yang menghibur. “Intinya, KBU ini dibangun dari awal untuk mengajarkan atau menjadi media pembelajaran bagi masyarakat tentang psikologi, tapi dengan cara yang menyenangkan—salah satunya lewat teater,” tambah Najmi. Pendekatan ini sejalan dengan semangat psikoedukasi berbasis seni yang belakangan semakin banyak diterapkan di lingkungan kampus sebagai sarana membangun kesadaran kesehatan mental.***


