Keterlibatan dalam aktivitas seni, termasuk teater, juga memberi manfaat psikologis bagi pelakunya sendiri. Penelitian terhadap mahasiswa yang aktif dalam kegiatan seni kampus menunjukkan penurunan tingkat stres, peningkatan kesejahteraan emosional, serta terbentuknya rasa komunitas yang lebih kuat di antara anggota kelompok. Menurut Syafi’i, temuan ini menegaskan manfaat psikologis dari keterlibatan aktif dalam kegiatan seni kampus. Keterlibatan penuh dalam proses kreatif memungkinkan individu memasuki kondisi flow, yakni keadaan fokus mendalam yang membantu mengalihkan perhatian dari tekanan akademik maupun personal, sekaligus memperkuat rasa percaya diri melalui pencapaian menyelesaikan sebuah karya bersama.
Di balik manfaat-manfaat tersebut, dunia seni pertunjukan juga menyimpan tantangan psikologis tersendiri, salah satunya stage fright atau kecemasan pertunjukan yang dapat dialami baik oleh aktor pemula maupun yang berpengalaman. Menurut Nordin-Bates, kondisi ini lumrah dijumpai dalam dunia seni pertunjukan. Faktor protektif seperti dukungan sosial yang positif di dalam kelompok serta kebiasaan mengubah cara pandang negatif menjadi lebih konstruktif (positive goal-imaging) terbukti membantu performer mengelola kegelisahan tersebut. Menurut Wilson, faktor-faktor tersebut menjadi pengingat bahwa proses berkesenian, sebagaimana proses belajar lainnya, juga perlu diiringi kesehatan mental yang dijaga baik-baik.


