Menurut Syahutari, studi terhadap aktor kelompok Teater Satu di Lampung menemukan bahwa proses kreatif berteater dapat menumbuhkan berbagai aspek kesejahteraan psikologis menurut kerangka Carol D. Ryff dan Corey L. M. Keyes, yaitu relasi positif dengan orang lain, kemandirian, penguasaan lingkungan, dan pertumbuhan diri—yang kemudian turut membentuk penerimaan diri dan tujuan hidup. Rasa kepemilikan (belongingness) dan kekompakan kelompok yang terbentuk dari proses latihan bersama secara intensif juga memperkuat kohesivitas tim, sebuah dinamika yang tampak pula pada proses produksi “Mereka Adalah Aku” yang digarap dalam waktu dua bulan dengan intensitas latihan yang meningkat tajam menjelang hari pementasan.
Salah satu keterampilan psikologis penting bagi aktor adalah regulasi emosi, yakni kemampuan menjaga hubungan sehat antara diri sendiri dan lingkungan saat memainkan karakter yang bukan dirinya. Menurut Campos, sebagaimana dikutip Strongman, kemampuan ini penting untuk menjaga kestabilan psikologis aktor selama berperan. Aktor perlu memisahkan unsur kepribadiannya dari unsur karakter yang diperankan, sembari tetap menyisipkan sentuhan personal agar penampilan terasa hidup. Kemampuan ini sejalan dengan teori determinasi diri (self-determination theory) dari Ryan dan Deci, yang menjelaskan bagaimana motivasi intrinsik—dorongan dari dalam diri yang muncul karena kepuasan dan minat pada proses berkarya—menjadi bahan bakar utama para aktor untuk bertahan menjalani latihan yang padat sekalipun waktu persiapannya singkat.


